Seberapa jauh Kita Semua Salah Paham Soal Waktu
![]() |
| Kita Semua Salah Paham Soal Waktu |
yang kita bisa mengkelompokkan kayak misalnya ini waktu aku SMP, waktu aku SMA, waktu aku kuliah. Jadi aku ngebenginnnya waktu itu balok sih. Oke sudah. Kalau menurut saya ini kenapa tuh waktu itu kan ibarat e ini kita enggak bisa balik ke masa lalu . Saya kasih tanda silang. Iya betul. Iya kalau menurut aku waktu itu bercabang sih karena kan ada beberapa yang memang mengungkapkan teori kayak paralel . Jadi menurutku bercabang dalam arti ada potensi berbeda aja di antara yang kita jalani sekarang sama kalau misalnya kita ngambil pilihan lain. oke oke oke. Jadi misalnya kita sekarang tapi
habis itu ada potensi kita bisa ke sini ke sini atau ke sini . Betul. Tapi nanti kan tinggal kita milih mau yang mana gituang. Aku mungkin beda juga sih menurut aku melingkar karena kayak waktu itu diibaratkan sama jam kan. Sedangkan jam dinding yang kita tahu kan lingkaran . Jadi dia berjalan terus dan bentuknya melingkar sih. First loh, melingkar. , mungkin sebenarnya kita enggak benar-benar tahu soal waktu. Sesuatu yang udah jadi misteri besar bagi banyak keilmuan dan pemikir selama ribuan tahun. Soalnya kenyataannya tuh sering enggak sesimpel kelihatannya. Bumi yang terlihat datar ternyata bulat. Matahari kelihatan berputar
di langit, tapi ternyata kita yang bergerak. Dan mungkin waktu juga enggak kayak yang kita kira. Mungkin kita semua selama ini salah paham soal waktu. Selama ribuan tahun sebelum jam ditemuin, satu-satunya cara manusia buat ngukur waktu tuh adalah ngamatin langit biru. Lama-lama umat manusia akhirnya juga ngitung siklus pergantian bulan dan juga akhirnya pergantian musim. Tapi masalahnya semua itu tuh durasinya bisa beda-beda. Sampai akhirnya manusia tuh nemuin cara buat ngukur waktu yang lebih seragam. ayunan bandul dan jam pasir. Ngamatin ini semua, salah satu pemikir terbesar zaman dulu nyimpulin kalau waktu adalah ukuran perubahan. Coba perhatiin, jam itu
ngukur perubahan posisi bumi terhadap matahari dan kalender ngukur perubahan bumi yang ngelilingi matahari. Ini artinya waktu bergantung sama hal-hal lain dalam alam semesta. Kalau enggak ada sesuatu yang berubah berarti enggak ada waktu. Tapi apakah benar kayak ? Ribuan tahun kemudian, seorang genius dari suatu desa di Inggris berpendapat sebaliknya. Menurutnya waktu tuh bakal selalu mengalir enggak bergantung sama perubahan apapun. Mau galaksi enggak gerak lagi, bintang berhenti bersinar, atau planet-planet membeku, ada waktu universal yang selalu berjalan. Bahkan kalau seisi dunia udah hancur, waktu tuh akan terus juga melaju. Dan aliran waktu ini sama di seluruh tempat di
alam semesta. Newton itu mikir kalau waktu itu bukan ukuran perubahan, tapi dia tuh lebih kayak ibarat latar, panggung, tempat, segala hal di dunia itu terjadi. Dan inilah yang dijelasin dalam buku-buku pelajaran selama ratusan tahun. Tapi lalu muncul seorang jenius lain yang ngerombak pemahaman umat manusia soal sang waktu, yakni Albert Einstein. Sama kayak Newton, dia setuju kalau ada waktu yang terus berjalan secara universal. Tapi waktu itu bisa berinteraksi sama hal-hal lain dan sifatnya jadi relatif. Jadi dia bukan latar ataupun panggung melainkan pemain lain dalam teater Jagat Raya. Dan Einstein mungkin orang pertama yang ada di ujung
jawaban dari misteri bentuk alam semesta. Ilmu pengetahuan berhasil ngungkap kalau alam semesta kita terdiri dari medan-medan yang enggak kasat mata. Dan guncangan pada medan inilah yang ngebentuk semua hal di dunia kita. Cahaya kebentuk dari medan elektromagnetik, meja, kursi, dan bintang-bintang juga terbentuk dari medan lain. Dan keberadaan medan gravitasi ngebentuk ruang waktu. Jadi, iya menurut Einstein, ruang dan waktu adalah satu kesatuan yang bentuknya ibarat kain. Massa dan energi bisa bikin kain ini melengkung. Dan lengkungan inilah yang kita rasain sebagai gravitasi. , gilanya ruang waktu bisa dibengkokin sama benda-benda berat dan penuh energi. Tapi bahkan orang sejenis
Einstein pun bisa salah. Ternyata masih ada sesuatu di balik waktu. Mungkin kita pernah berharap bisa bikin waktu membeku, bergerak lebih cepat, atau bahkan bisa diulang. Tapi nyatanya dalam kehidupan sehari-hari waktu berjalan tanpa henti, tanpa peduli sama perasaan kita. Abad segini misalnya, umat manusia nemuin alam semesta super kecil yang tersembunyi di balik atom, yakni dunia fisika quantum. Dan di alam semesta sekecil ini, segala sesuatu jadi aneh dan enggak masuk akal termasuk waktu. Maka di sini kita enggak bisa lagi ngitung waktu dalam ukuran menit, detik, atau bahkan milidetik. Kita harus turun ke ukuran terkecil waktu, . kayak
partikel dan cahaya yang bisa dalam tanda kutip terus-menerus dibelah jadi paket-paket terkecilnya. Waktu itu juga punya satuan dasar yang enggak bisa dibagi lagi. Kalau kita zoom terus, garis waktu sebenarnya terdiri dari titik yang super super super kecil dengan jeda yang super super super sempit. Mirip kayak gambar di layar yang terlihat mulus, tapi nyatanya berupa sekumpulan pikel. Dan di sinilah kita nemuin satu kesimpulan gak masuk akal. Ternyata waktu itu berbentuk balok dan potongan balok terkecilnya bernama waktu plank. Oke, sekarang coba kedipin mata kalian di waktu sesingkat itu. Waktu plank yang terjadi itu udah lebih banyak dari
semua bintang di galaksi kita. Dalam sedetik, jumlah waktu plank yang terjadi jauh lebih besar dibanding semua detik yang udah berlalu sejak Big Bang. Kalau satu waktu plank kita regangin sampai setara 1 detik, apakah kalian kebayang 1 detik benerannya setara apa? Bukan 1000 tahun, bukan 1 miliar tahun, tapi ibarat waktu yang dilewatin alam semesta dari Big Bang sampai sekarang diulang sebanyak puluhan ribu miliar triliun kali. Iya, dari kacamata waktu plank yang sangat kecil, raksasa bernama satu detik itu adalah gabungan dari masa depan dan masa lalu yang tak terhitung banyaknya. Tapi dari sini muncul satu misteri yang
sebelumnya enggak pernah kepikiran buat kita pertanyakan, yakni apa itu masa lalu dan juga apa itu masa depan sebenarnya. Di dunia kita sehari-hari, kita bisa tahu perilaku sesuatu. Bahkan ketika kita enggak ngelihat, matahari bakal terus terbenam, burung bakal terus berkicau, dan air terjun bakal terus mengalir meski kita enggak ngamatin. Tapi di alam semesta yang super kecil, semuanya itu berubah. Karena pada puluhan tahun lalu para ilmuwan tuh ngelakuin eksperimen terhadap sumber energi seluruh kehidupan di bumi, yakni cahaya. Laser ditembakin ke celah ganda ngelewatin alat mendeteksi yang ngamatin celah itu. Hasilnya benar-benar bikin ilmuwan garuk-garuk kepala. Ketika ada
pendeteksi, cahaya itu ngelewatin kedua celah sekaligus nghasilin pola kesebar. Tapi kalau alatnya dipasang, cahaya jadi cuma bisa milih salah satu jalan ngehasin pola dua garis lurus. Seolah-olah cahaya bisa tahu kalau kita tuh lagi ngamatin dan ngubah perilakunya sesuai pengamatan kita. Dan ini adalah salah satu hal paling enggak masuk akal dari percobaan quantum. Posisi suatu partikel baru ada ketika dia diukur. Sebelumnya kita bisa bilang kalau posisi partikel itu ada di semua kemungkinan tempat sekaligus atau nama kerennya dia ada di dalam super posisi. Baru ketika ada pengamatan, partikel itu tuh akhirnya milih satu tempat buat berada. Tapi
yang lebih gila lagi, ruang waktu juga bisa ada di kondisi superposisi. Karena sama kayak partikel, ruang waktu adalah objek fisik. Artinya urutan waktu pun jadi enggak mutlak. Suatu peristiwa bisa terjadi sebelum dan sesudah peristiwa yang lain. Masa lalu dan masa depan bisa terjadi bersamaan. Oke. Oke. Tarik nafas dulu karena ini benar-benar gila. Bahkan ada ilmuwan yang bilang kalau mungkin enggak ada orang yang benar-benar bisa ngerti soal dunia kuantum. Hal-hal yang terjadi di sana tuh benar-benar enggak sesuai sama logika. Tapi kalau di dunia quantum urutan waktu itu enggak pasti, kenapa kita ngerasa sebaliknya? Kenapa kita ngerasa
waktu tuh selalu jalan dari masa lalu ke masa depan? Kita mungkin bisa tahu waktu berjalan maju karena ada hal-hal yang kita tuh enggak bisa ulang. Telur yang dimasak enggak bisa kembali mentah, kayu yang terbakar akan jadi abu. Dan kalau ada video yang aneh kayak gini, kita bakal tahu kalau dia tuh diputar balik. Dan dalam sains ini tuh bernama entropy, ukuran seberapa acak suatu sistem. Dan selama ratusan tahun kita percaya kalau alam semesta tuh dimulai dari entropi yang sangat rendah alias sangat teratur. Dan makin lama dunia itu jadi makin acak. Entropinya itu dibilang makin tinggi. Tapi
pertanyaannya kenapa? Sekarang coba kita lihat air yang direbus entropinya meningkat. Makin panas unsur-unsur airnya bergerak makin cepat dan makin acak. Proses pemanasan ini ibarat kita lagi mengocok tumpukan kartu jadi makin acak. Tapi susunan kartu yang teratur cuma satu dari banyaknya kemungkinan lain yang sama uniknya. Jadi mungkin apa yang kita sebut sebagai acak dan teratur itu sebenarnya enggak benar-benar ada di dunia nyata. Ukuran ini muncul karena keterbatasan penglihatan kita. Kita tuh enggak bisa ngelihat dunia di antara atom-atom dengan mata telanjang. Kalau kita bisa lihat semua perilaku dan gerakan, semua unsur yang ada, ukuran keteraturan itu bakal
lenyap. Enggak ada lagi entropi. Perbedaan antara yang acak dan yang teratur sebab dan akibat masa lalu dan masa depan menghilang. , aliran waktu yang kita rasakan mungkin muncul karena kita cuma bisa ngelihat sebagian kecil dari alam semesta. Mungkin kita bisa bilang kalau waktu muncul dari ketidaktahuan kita. Dan bisa jadi ini juga dipengaruhin sama persepsi kita. Cara otak, ngeproses informasi, kejadian direkam sebagai memori, pola yang ada dikenali, dan masa depan diprediksi. Dan waktu pun jadi terasa melaju satu arah. Mungkin sebenarnya manusialah yang pada akhirnya menciptakan waktu. Ternyata ada banyak hal yang kita salah pahamin soal waktu.
Mungkin dia bukan pengendali segala peristiwa yang terjadi, bukan juga penonton yang berdiam mengamati dari balik layar, melainkan sosok yang selalu menemani kita dalam perjalanan memahami dunia dan seisinya. Tapi mungkin kita bakal bisa lebih paham kalau kita bayangin alam semesta bukan cuma sebagai kumpulan benda, melainkan sebagai kumpulan peristiwa. Kalau kita cuma ngelihat dunia sebagai kumpulan benda, kita mungkin bakal cuma bakal ngelihat batu, tumbuhan, manusia sampai bintang-bintang sebagai sekumpulan atom yang kebetulan nyatu. Tapi kalau kita ngelihat dunia sebagian kumpulan peristiwa, segala sesuatu termasuk setiap manusia jadi punya cerita. kita bergerak, berubah dan bertumbuh, bersemi, dan bermekar. Dan
seperti biasa, terima kasih.

Posting Komentar untuk "Seberapa jauh Kita Semua Salah Paham Soal Waktu"